Sabtu, 22 Agustus 2015

Pendidikan, “Solusi Sederhana untuk Problematika Klasik”
Oleh: Cipta Ningrum Dyah Anggraheni

Programmed for International Study Assessment (PISA) pada tahun 2012 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah dalam pencapaian mutu pendidikan. Peringkat tersebut dapat dilihat dari skor yang dicapai pelajar usia 15 tahun dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dilihat betapa rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, dengan segala kekurangan yang ada seperti biaya yang mahal, sarana dan prasana yang sangat minim dan kurangnya sosialisasi di daerah pedalaman sehingga anak-anak yang di pengalaman tidak mengerti betapa pentingnya pendidikan.
Hal tersebut data dilihat dari semakin menurunnya tingkat anak-anak yang mampu bersekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Kompas mencatat bahwa 1,2 juta siswa di Jawa Barat putus sekolah karena masalah biaya dan terbatasnya sarana pendidikan. Sementara di Nusa Tenggara Timur tercatat bahwa 40.000 siswa tidak melanjutkan sekolah karena masalah biaya. Berdasarkan data statistik Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2006-2007, selisih jumlah siswa lulusan SMA/SMK negeri dan swasta dan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri dan swasta adalah 56,9%. Dengan kata lain, hanya 43,1% saja lulusan SMA dan SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Sayangnya pendidikan di negeri ini selalu saja dihadapkan pada masalah klasik yang tak kunjung terpecahkan seperti masalah kurikulum, kualitas guru, tunjangan guru, anggaran pendidikan, serta para pejabat di bidang pendidikan yang tidak bervisi panjang dan bahkan sebagiannya korup. Penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum yakni efektifitas pendidikan di Indonesia yang juga sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan, sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan.
Masalah-masalah tersebut selalu saja dipecahkan setengah-setengah sehingga tak kunjung selesai sepenuhnya. Lihat saja masalah kurikulum yang selalu mengundang perdebatan. Memang sudah sewajarnya kurikulum berubah-ubah demi menjawab perubahan zaman. Namun sayangnya selama ini perubahan kurikulum seperti menegasikan pencapaian yang sudah dicapai kurikulum sebelumnya. Bahkan di akhir tahun lalu terdapat kejadian menarik ketika Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan, membatalkan implementasi Kurikulum 2013 yang belum lama diresmikan Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh, yang menjabat pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Secanggih apapun kurikulum yang dibuat dan seholistis apapun kurikulum yang diimplementasikan, hanya akan menjadi onggokan huruf di atas kertas saja jika para guru tidak mampu menyerap dan memaknai kurikulum tersebut. Kualitas guru juga selalu menjadi sumber kekhawatiran dalam dunia pendidikan Indonesia. Sangat banyak guru di negeri ini yang cerdas dan kreatif, namun guru yang kualitasnya biasa-biasa saja dan di bawah standar tak kalah banyak. Sungguh sangat miris jika membayangkan anak bangsa dididik oleh orang yang biasa-biasa saja bukan?
Untuk itu dibutuhkan keberanian, pengorbanan, dan kerelaan kita semua untuk melakukan terobosan-terobosan terhadap batas-batas sistem yang telah mapan dan baku. Negeri ini butuh pemimpin yang berpikir out of the box untuk melentingkan tingkat pendidikan bangsa ini. Negara ini juga membutuhkan guru yang kreatif dalam metode pengajaran yang diberikan. Dengan demikian, penyampaian materi menjadi semakin menarik dan menjadikan waktu-waktu belajar menjadi waktu-waktu paling menyenangkan bagi peserta didik. Guru harus sadar bahwa mereka adalah teman bagi murid. Guru pun harus mengubah sudut pandang untuk berorientasi pada kualitas pengajaran. Tidak hanya dari pengajar, tapi juga peserta didik, masyarakat, dan lingkungan. Karena dengan mengutamakan kualitas, kemampuan individu menjadi berkembang sehingga dapat berguna untuk kemajuan bangsa.
Pendidikan memang tidak hanya terbatas pada sekedar transfer pengetahuan dan keahlian fungsional. Pendidikan harus menjadi kebutuhan, bukan lagi sebatas kewajiban yang harus dilakukan, menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap orang selalu haus akan ilmu, menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas dan rasional, tapi juga berbudi pekerti luhur, dan yang tak kalah penting adalah pengembangan jati diri dan kemampuan menularkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian, kerja keras, kesederhanaan, disiplin dan kebersamaan.
Satu-satunya harapan adalah agar Indonesia menjadi negara yang lebih maju dengan meningkatkan mutu pendidikan dan menghilangkan krisis pendidikan yang ada, agar semua anak Indonesia mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi sehingga dapat memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Pendidikan, “Solusi Sederhana untuk Problematika Klasik”

Ya Robb
Rasanya tiada lagi yang bisa termohonkan selain
Kesabaran
Keteguhan
Ketegaran
Keikhlasan
Bukan itu bukan, bukan bukan itu
Bukankah?

Seperti ini:
Rasanya tiada lagi yang bisa termohonkan selain keistiqomahan dalam
Jangan menganggapku kuat, karena bebanku waktu itu memang terlalu berat.
Sementara yang lain sedang memperjuangkan kesabaran, keteguhan, keikhlasannya sendiri

Lantas nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan?

Only Hope

WANITA MALAM
Oleh: Cipta Ningrum Dyah Anggraheni

Seperti malam-malam sebelumnya, aku berdiri di sebuah jembatan. Menanti mobil yang rela berhenti untuk menumpangiku. Bukan menumpangiku ke rumah, namun ke hotel ataupun tempat penginapan. Jangan kaget, ini memang pekerjaanku. Orang mengatakan aku PSK. Tapi aku rasa panggilan itu terlalu kejam untukku. Walaupun aku tak pernah memikirkan betapa kejamnya dunia yang tak pernah berpihak padaku.
Bagaimana tidak? Aku hidup sebatang kara. Orang tuaku meninggalkanku ketika aku masih SMA. Tak usah bertanya mengapa mereka meninggalkanku. Ceritanya panjang. Sedangkan sedari kecil aku sudah kenyang dengan cacian orang yang mengatakan bahwa aku ini anak haram. Bayangkan saja betapa menyakitkannya hidupku. Dikucilkan banyak orang, dijauhi semua teman, ditinggalkan semua keluarga. Aku harap kalian tak pernah merasakan apa yang aku rasakan.
Aku masih berdiri di atas jembatan ini, menanti seorang lelaki hidung belang yang akan menjadi pelangganku yang hingga kini belum juga datang. Entah apa yang terjadi. Rupanya pundi-pundi rezeki kali ini tak mengarah kepadaku.
Angin musim hujan yang berhembus dari utara semilir menyapu tempat ini. Angin itu membawa lebih dari sekedar kesejukan. Bahkan membuat bulu kuduk ini berdiri. Ratusan jangkrik bercengkrama riuh di sekitar semak belukar. Terkadang mereka berloncatan riang kesana-kemari. Terkadang hinggap di rerumputan yang basah. Kulihat beberapa manusia berpakaian putih berjalan beriringan. Mimpikah aku? Apakah mereka adalah malaikat yang akan menjemput dan mencabut nyawaku?
Aku mencoba mengikuti mereka. Rupanya mereka menuju ke sebuah masjid. Sungguh indah masjid itu. Lampunya menyala dengan terang, seolah menggambarkan indahnya surga. Kubahnya yang hijau menambah anggunnya masjid itu. Di sebelahnya berdiri sebuah menara yang tinggi menjulang menyuarakan lantunan adzan. Betapa merdunya suara adzan ini, menghipnotisku untuk berjalan menuju masjid.
Langit bagai kanvas putih dengan sapuan kuas kemerahan. Di ufuk timur mentari perlahan merekah seumpama mawar merah yang mekar di musim semi. Sinar merah mula-mula menyepuh bebatuan yang ada di sela rerumputan. Lalu menyepuh pucuk menara Masjid Al Ikhlas. Lalu perlahan menyepuh kubah hijau masjid itu. Warna merah kemudian berubah menjadi warna oranye kekuningan. Lalu sempurnalah sinar putih terang, dan seantero dunia terpapar hangatnya sinar matahari yang jernih keperakan.
Aku masih terbaring, ditunggui seorang lelaki bersarung yang tampak berjuang melawan rasa gelisah yang menyerangnya. Rupanya dia mengkhawatirkanku yang sedari tadi tertidur pulas di gerbang masjid. Lelaki itu melambaikan kelima jari tangan kanannya di depan wajahku untuk membuktikan apakah aku telah terjaga. Sementara aku terkaget melihat tangan kirinya yang memegang tongkat. Berkali-kali aku mengedipkan mataku, memastikan bahwa lelaki itu adalah manusia. Bagaimana tidak? Parasnya yang bersinar putih bersih membuatku merasa bahwa aku telah berada di surga bersama dengan sesosok malaikat tanpa sayap.
“Mbak, bangun mbak. Jangan tidur di masjid.”
Malaikat itu menyapaku. Tersenyum simpul padaku. Menyuruhku untuk pindah dari tempat itu. Ya! Aku tertidur, bukan, aku tertidur pulas di gerbang masjid, dengan mengenakan “pakaian dinas” yang tak pantas untuk dijadikan kostum untuk sekedar masuk di dalamnya. Masjid Al Ikhlas.
Masjid  itu kini menjadi saksi perjumpaan kami yang pertama. Perjumpaan yang tak pernah terlupa hingga akhir usia. Tuhan memang selalu menyimpan rahasia-rahasia besar melalui takdir-Nya. Siapa yang menyangka, setelah sekian lama tak ke masjid, kakiku seperti tersihir untuk terus berjalan menuju teras masjid itu. Hanya sampai teras. Hati ini rasanya masih belum pantas untuk hanya sekedar duduk, berdiam diri, meratapi segala dosa  dalam diri, dan mensyukuri nikmat yang telah banyak Tuhan beri.
Namun upayaku untuk tahu diri telah mengalahkan segalanya. Bergegas aku beranjak dari tempatku berdiri sedari tadi. Berlari menuju tempat yang diberi nama ketenangan. Namun tak jua kumenemukannya. Entah mengapa, ingin rasanya kuberbenah diri, memperbaiki segala apa yang ada di dalam diri. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sesampaiku di rumah, aku berlari membuka lemariku, mencari sehelai kain yang telah lama tak kupakai. Yang kuingat, kain itu pernah aku pakai saat kepergian almarhumah nenek 5 tahun yang lalu. Kerudung. Kerudung itu kini tak lagi putih seputih dulu. Kusam, sekusam hatiku yang tak pernah memperbanyak zikir penyubur iman. Baru kini kusadari bahwa hamba telah lama tersesat di jalan kegelapan. Telah jauh hamba mendaki puncak kemaksiatan. Sesak rasanya udara yang kuhirup selama ini.
Namun setelah kupakai kain itu di kepalaku, seketika itu juga angin segar berhembus padaku. Kerudung itu yang menyadarkanku bahwa ternyata Tuhan-lah yang menuntunku kembali ke jalan yang benar. Meski merasa tak pantas, namun ini mampu mengobati kepedihan hati.
Akhirnya kuputuskan untuk berhijab. Meski taatku masih setinggi mata kaki. Meski imanku masih kian bersembunyi. Namun kali ini aku memberanikan diri. Melangkahkan kaki menuju masjid itu lagi. Dan saat kudengar adzan di masjid itu, bergegas aku mengambil wudhu. Astaga! Aku bahkan lupa cara berwudhu!
Karunia Tuhan memang tiada habisnya. Aku mendengar suara yang menuntunku untuk membasuh tangan, muka, ubun-ubun, lalu kaki.
“Setelah itu, ikuti saya membaca do’a setelah berwudhu.”
“Do’a setelah berwudhu?”
Asyhadu Allaa Ilaaha Illalloohu Wahdahuu Laa Syariika Lahu Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuuwa Rosuuluhuu, Alloohummaj'alnii Minat Tawwaabiina Waj'alnii Minal Mutathohhiriina
 “Lain kali, kalau mau wudhu, di tempat wudhu wanita yaa..”
“Terima kaa…..”
Aduh! Malu rasanya diri ini. Dan setelah aku menoleh  ke belakang, ternyata itu adalah suara malaikat yang menyapaku tadi pagi. Bukan, itu adalah suara seorang pria pincang yang membangunkanku saat tertidur subuh tadi. Namun ketika aku ingin mengucapkan terima kasih, pria pincang itu telah berjalan dengan tongkatnya menuju tempat sholat.
Aku sholat. Jangan tanyakan kesalahan apa yang aku lakukan pada saat sholat, karena kau pasti akan tertawa. Seluruh jama’ah menoleh padaku. Mungkin mereka merasa bahagia dengan kedatanganku, merasa ada jamaah baru yang bisa mereka ajak untuk masuk ke dalam surga bersama mereka. Mereka mengatakan padaku bahwa setelah ini akan ada pengajian dari imam masjid ini. Dan lelaki pincang itu ternyata adalah imam Masjid Al Ikhlas.
 “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)”
“Jadi, ibu-ibu sekalian, mulai saat ini, marilah kita menyempurnakan hijab kita. Agar hati kita menjadi bersih dan diri kita menjadi lebih baik. Cukup sekian ceramah dari saya. Wassalamu’alaykum wr. wb.”
Mimpi apa aku semalam, aku seperti terlahir kembali. Seharian aku merasa telah melakukan sejuta kebaikan. Behijab, berwudhu, sholat berjamaah, mendengarkan pengajian, lalu seorang ibu paruh baya pun menyodorkan kotak sedekah padaku. Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan beberapa receh uang logam dari saku kananku. Lengkap sudah ibadahku hari itu.
***
Menjadi wanita malam memanglah sebuah pilihan. Tinggal memilih menghabiskan malam untuk apa. Setahun sudah aku memilih menghabiskan malam dengan tahajud, zikir dan berdo’a. Setahun itu pula aku memilih jalan lurus yang kutempuh dengan seorang lelaki pincang yang tak sengaja kutemui di Masjid Al Ikhlas. Kau pasti tak pernah menyangka. Lelaki itu kini adalah.

Suamiku.

CERPEN: WANITA MALAM

Sabtu, 02 Mei 2015



WORTEL TIKO
Oleh: Cipta Nindya
Di sebuah kebun wortel yang luas, hiduplah dua ekor kelinci yang bernama Mino dan Tiko. Setiap kali wortel akan dipanen oleh pak tani, mereka sudah terlebih dahulu memanen wortel tersebut. Pak tani sudah berulang kali mengejar mereka tapi mereka berhasil melarikan diri. Sampai-sampai pak tani merasa bosan. Pada suatu hari, masa panen pun tiba. Mino dan Tiko bangun pagi-pagi sekali.
“Ayo cepat bangun, Mino. Aku tidak mau pak tani mendahului kita,” Tiko membangunkan Mino yang masih nyenyak tertidur.
Merepa bersiap menuju ke kebun. Namun sayang, di kebun sudah ada pak tani yang tengah memanen wortel-wortel segar. Rupanya kali ini pak tani tak mau kalah dengan dua ekor kelinci ini.
“Lihat kan? Kita terlambat. Ini semua gara-gara kamu yang bangun kesiangan!” Tiko memarahi Mino.
“Iya, iya. Aku yang salah. Maafkan aku ya…” Mino mengakui kesalahannya.
“Mulai besok, jangan bangun kesiangan lagi ya,” lanjut Tiko menasehati.
Tiko memang sangat berambisi untuk mengambil hasil panen pak tani. Ia selalu menghalalkan segala cara agar dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Lain halnya dengan Mino. Mino selalu bersyukur atas apapun yang ia peroleh.
Keesokan harinya, Mino dan Tiko bangun pagi-pagi sekali. Mereka bangun sebelum matahari terbit. Mereka segera berlari menuju ke kebun. Ternyata pak tani sudah berada di kebun tersebut. Tetapi mereka tak kehilangan akal. Mereka mencari lahan yang belum dipanen oleh pak tani.
“Lihat Tiko! Disana ada wortel yang masih belum dipanen!” Mino berlari menuju wortel tersebut. Tiko mengikuti. Tiko berlari lebih kencang daripada Mino.
“Aku mau yang ini! Yang ini daunnya lebih lebat dan segar. Pasti wortelnya pun juga besar.”  Tiko merebut wortel pilihan Mino.
“Baiklah, kalau kamu mau wortel yang itu, aku akan memilih wortel yang ini. Walaupun daunnya sedikit, semoga wortelnya besar.”  Ucap Mino penuh harap.
“Ya tidak mungkin lah! Jelas-jelas wortel yang aku pilih ini daunnya tampak lebat. Pasti wortelnya besar dan segar. Hahaha….” Tiko semakin sombong.
Saat pak tani sudah meninggalkan kebun, dengan segera mereka menggali tanah agar bisa mendapatkan wortel yang mereka inginkan. Setelah selesai menggali, ternyata wortel yang dipilih oleh Mino sangat besar, warnanya orange segar. Sangat berbeda dengan wortel yang Tiko pilih. Wortel Tiko ternyata kecil, sudah busuk pula. Tiko merasa heran dengan wortel yang telah ia pilih. Ia tidak percaya dan merasa iri dengan wortel yang didapatkan.
Tiko tidak tega melihat Mino yang bersedih. Ia membagi wortel miliknya membagi dua, kemudian memberikannya kepada Mino.
“Terima kasih Tiko. Kau memang temanku yang paling baik. Aku berjanji tidak akan sombong lagi.” Mino berterima kasih sambil memeluk Tiko.
“Tidak apa-apa, Mino. Kita memang tidak boleh menilai sesuatu dari tampilan luarnya saja. Karena belum tentu apa yang tampak bagus dari luar, bisa jadi busuk di dalamnya.” Mino menasehati.
“Iya Tiko. Aku mengerti sekarang.” Ucap Tiko sambil tersenyum.
“Nah, ayo kita makan wortel ini bersam-sama.” Mereka pun memakan wortel dengan lahap dan memperoleh pelajaran berharga dari kejadian ini. Bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. Kita harus bijaksana dalam mengambil semua keputusan.

Dongeng: WORTEL TIKO



Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanyai tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin diantara manusia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. (H.R. Bukhari)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatunya dengan penuh manfaat. Menjadikan semua hal begitu bermakna. Langit, bumi, dan seisinya berjalan begitu stabil. Itulah kehidupan. Senantiasa memberikan misteri yang sudah selayaknyalah manusia mempelajarinya.
Allah SWT telah menciptakan segala sesuatunya dengan seimbang. Ada proton, ada elektron. Ada siang, ada malam. Ada muslimin, ada muslimah. Mereka berbeda, namun masing-masing memiliki peranan tersendiri. Menjadikan hidup ini lebih indah dan berwarna. Itulah nikmat dari Allah yang tiada tara. Maka nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan?
Berbiacara tentang kehidupan, pasti di dalamnya ada ujian dan cobaan. Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita. Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan. Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.
Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan tugas, malas, akan selalu dipertemukan dengan tugas-tugas, kemalasan, serta urusan-urusan duniawi lainnya. Akan terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain. Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, Allah akan menolong dan mengukuhkah kedudukan kita jika kita menolong agama Allah.

Sungguh teramat merugi
Mereka yang mengikuti hawa nafsu
Kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dalam dakwah Ilallah ini
Tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan
Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah
Memang, dakwah ini berat
Karenanya,
Ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati yang sekuat baja
Kesabaran yang tiada henti
Kekuatan hati yang berlipat
Keikhlasan dalam beramanah yang meninggi
Ketabahan yang seluas lautan
Dan keyakinan yang sekokoh pegunungan
Karenanya,
Tetaplah disini
Di jalan ini
Dalam dekapan ukhuwah ini
Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh
Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya
Tetaplah disini
Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya
Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah
Karena iman akan menjaga kita setiap waktu
Karena seburuk apapun
Dan sekeruh apapun kondisi kapal layar kita
Jika kita mencoba untuk keluar dari kapal layar
Dan memutuskan berenang seorang diri
Kita pasti akan kelelahan
Dan memutuskan menghentikan langkah
Yang pada akhirnya tenggelam di samudera kehidupan
Jika bersama dakwah saja
Kita serapuh itu
Bagaimana mungkin jika seorang diri?
Sekuat apa kita jika seorang diri?


Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Description: D:\Pitures\10931364_723138947806893_1550379432111662122_n.jpg

Tetaplah di Sini…



LOMBA SUKSES
Oleh: Cipta Nindya

Pada suatu hari di hutan belantara yang luas, diselenggarakan perlombaan yang akan diikuti oleh seluruh hewan di hutan. Perlombaan tersebut dinamakan Lomba Sukses. Lomba ini diadakan oleh Singa si Raja Hutan bersama dengan para pengawalnya.
Banyak hewan yang mendaftar untuk mengikuti perlombaan ini. Ikan, burung, harimau, buaya, kucing, bahkan kupu-kupu, cacing, dan belalang pun juga mengikuti perlombaan ini. Lomba ini terdiri atas 3 cabang lomba yang akan dilaksanakan selama satu hari, yakni lomba berenang, berlari, dan terbang.
Seperti halnya hewan-hewan lain, Garuda pun mengikuti perlombaan ini dengan harapan agar bisa memenangkan lomba tersebut. Dengan penuh keberanian, Garuda mendaftarkan diri pada ketiga lomba tersebut. Garuda merasa percaya diri karena dia telah mempersiapkan diri untuk lomba tersebut.
“Aku pasti bisa memenangkan perlombaan ini. Aku kan sudah mempersiapkan diri selama 1 tahun. Aku pasti menang,” kata Garuda dengan bangga.
Pada hari perlombaan, Garuda sudah siap berada di urutan pertama dalam lomba berenang bersama peserta lainnya. Ikan paus, buaya, lumba-lumba, juga turut serta dalam perlombaan tersebut. Ketika peluit dibunyikan, Garuda pun menyelami sungai dan berenang sekuat tenaga.
“Aku harus menang. Aku pasti menang.” Garuda berenang sambil terengah-engah.
Namun sayang, Garuda tak memenangkan lomba berenang. Dia dikalahkan oleh ikan paus. Garuda merasa marah dan tidak terima atas kekalahannya.
Siang harinya, dilaksanakan lomba berlari. Garuda tak mau kalah, sekalipun lawannya adalah harimau, rusa, dan zebra.
“Selamat bertanding Garuda. Semoga kita bisa mendapatkan hasil yang terbaik,” kata rusa.
Garuda tak menanggapinya. Dia hanya fokus pada tujuannya untuk menang.
“Bersedia? Siap? Mulai!”
Seketika itu juga Garuda berlari dengan kencang agar dapat memenangkan lomba berlari. Namun apa yang terjadi? Garuda tak dapat memenangkan lomba berlari. Dia dikalahkan oleh harimau. Lagi-lagi Garuda marah dan tidak mau menerima kekalahannya.
Sore harinya, perlombaan terakir adalah lomba terbang. Garuda optimis sekali pasti bisa memenangkan lomba terbang.
“Kali ini aku pasti memenangkan pertandingan terbang ini. Seluruh belantara pun tahu, aku si jago terbang,” Garuda menyombongkan diri.
“Semangat Garudaa…. Kamu pasti bisaaa….” teriak kucing menyemangati.
“Sudah jelas aku yang akan menang. Tidak ada satu pun hewan di belantara ini yang terbangnya sehebat aku!” Garuda semakin menyombongkan diri.
“Priiiiiiiit…..” peluit dibunyikan, Garuda mengepakkan sayap selebar mungkin agar dapat terbang dengan cepat. Namun siapa sangka? Ternyata Garuda kalah dalam lomba terbang. Dia dikalahkan oleh burung merpati yang kecil. Taukah kamu mengapa Garuda dapat terkalahkan? Karena tenaga Garuda telah habis setelah mengikuti lomba berenang dan lomba berlari.
Garuda ternyata tidak dapat menjadi pemenang dalam Lomba Sukses. Garuda menyesal dengan keputusannya mengikuti ketiga lomba tersebut. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak bersikap sombong lagi, karena sombong hanya dapat merugikan diri sendiri.

Dongeng: LOMBA SUKSES